Quick Notice

"Apa yang hendak kau perbuat, perbuatlah dengan segera" blog berisikan relung hati seorang penulis yang ingin membagikan kepada rekan-rekan sekalian

Menemukan Tuhan dalam KEHENINAGAN Biara

Kamis, 16 September 2010 | Thomas Sonny

Sepenggal kata diatas mengantarku pada permenungan menemukan Tuhan dalam sebuah keheningan.pengalaman 4 hari bersama para Rahib Trapis untuk mencoba dan mengenal kehidupan mereka lebih dalam lagi. Sebagai seorang seminari yang sedang mencari corak panggilan hidupnya bagiku Pertapaan Santa Maria, Rawaseneng, Temanggung, Jawa Tengah ini membantuku untuk menemukan dan mengenal sebuah corak kehidupan yang baru, hidup kontemplatif. Sebagaian besar serikat, ordo, dan tarekat yang aku kenal ialah serikat, ordo, dan tarekat yang bercorak aktif dan berada ditengah-tengah masyarakat secara langsung, tetapi Ordo Cistersiensin Observasi Ketat ini merupakan sebuah ordo dengan corak hidup yang berbeda, mereka merupakan ordo kontempletif yang menjalani hidup kesehariaannya melalui doa dan kerja tangan. Di bumi nusantara ini ordo trapist ini sudah hadir semenjak 57 tahun yang lalu. Lokasi pertapaan Santa Maria ini berada di deretan perbukitan Temanggung, letaknya diatas tanah pemerintahan Kabupaten Kandagan, Temanggung, Jawa Tengah. Menurut segi territorial keuskupan Biara ini berada dalam lingkup Keuskupan Agung Semarang. Dengan luas tanah 138 Ha yang meliputi kompleks pertapaan, perkebunan dan perternakan.

Selama 4 hari aku mencoba masuk dan mengenal lebih dalam kehidupan para rahib dipertapaan ini. Banyak hal yang aku lalui dalam kehidupan bersama dengan para rahib dipertapaan ini. Dinamika kehidupan yang boleh aku lalui bersama mulai dari hidup doa dan hidup kerja yang mereka semangati, Ora et Labora berdoa dan berkerja. Itulah semboyan yang dihidupi oleh para rahib yang hidup di dalam tembok biara ini. Semua dinamika kehidupan berlangsung pada pukul tiga dini hari dan berakhir pada pukul delapan malam. Memang benar hidup doa dan kerja sangatlah menjadi fondasi yang kuat dalam kehidupan para rahib di Rawaseneng ini. Kehidupan yang berbeda ditengah keheningan dan jauh dari hiru pikuk dan hingar bingar perkotaan.

Bagiku secara pribadi pengalam live-in ini merupakan pengalam yang sungguh luar bisa dengan segala nilai-nilai yang boleh aku dapat ditengah para rahib trapist ini. Dari runtinitas yang berbeda dan jadwal keseharian yang cukup berbanding terbalik ini aku sungguh belajar secara pribadi untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar yang juga kurang bersahabat dengan kebisaanku di Ibu kota. Ketika harus bangun jam tiga dini hari merupakan hal yang sangat sulit bagiku untuk membuka mata. Tapi dalam kesinambungan hari kehari aku mulai dapat beradaptasi dengan keadaan sekitar. Bangun di pagi hari ketika matahari belum bangun merupakan sebuah hal yang tidak bisa aku lakukan tetapi hal ini sungguh luar biasa untuk aku jalani pepatah yang berkata menemukan Tuhan dalam keheningan merupakan hal yang sungguh aku rasakan ditengah-tengah kehidupan para rahib dibiara ini. Apa yang dikatakan untuk menemukan Tuhan dalam keheningan dimana semakin aku hening semakin dekat pula aku rasakan kehadiran Tuhan yang sungguh dekat dan dapat aku jangkau. Hening bagiku secara pribadi bukanlah hening diam tanpa melakukan apapun tetapi aku diam dalam perkataan tetapi oragan tubuhku yang lain dapat berkerja secara maksimal itu yang aku artikan sebagai hening dalam menemukan Tuhan.

Rutinitas Doa yang aku alami pun memilik jumlah yang cukup banyak dan sungguh diluar porsi biasannya. Sehari aku dapat merayakan ibadat sebanyak enam sampai tujuh kali secara bersama-sama. Dari hidup doa ini aku pun sungguh bersyukur menemukan sebuah pola doa yang benar-benar memuji dan memulikan Tuhan dalam kehidupan secara terus menerus sebuah perpatah latin berkata Bene Cantat Bis Orat bernyanyi dengan baik sama saja berdoa dua kali. Para rahib yang mendaraskan mazmur disaat setiap ibadat merupakan bentuk syukur dan memuji Tuhan melalui mazmur yang mereka daraskan. Lantuna mazmur yang begitu indah membuatku tertegun untuk masuk kedalam doa yang sangat magis tersebut. Rutinitas doa yang kujalani ini merupakan rutinitas doa yang selalu mengajakku untuk memuji kebesaran Allah disetiap waktu,mulai dari bangun pagi, disiang hari, sore hari setelah kerja dan malam hari sebelum tidur. Dalam doa-doa pribaiku aku pun dapat menemukan kedalam relung batinku yang terkadang kosong dan jauh dari Allah. Dalam kesempatan live-in ini pun aku sungguh bersyukur aku dapat menimbah segala hal positif yang boleh aku temui ditempat ini dalam setiap doa pribadiku aku menemukan Allah yang memiliki kasih begitu besar kepadaku tanpa aku sadari, dalam perjalan hidup panggilan selama kurang dari tiga tahun ini aku sungguh bersyukur berjumpa dengan para rahib yang saling menguatkan setiap kali aku berjumpa dan berbincang terutama ketika berjumpa dengan Rahib Blasius Tjoa yang sangat menguatkan panggilanku melalui sharing yang diceritakannya kepadaku, dengan sharingnya itu aku merasa memiliki kekuatan baru dalam menapaki setiap jalan panggilan yang aku lalui dari saat ke saat.

Aku juga mengikuti kerja tangan yang dilakukan para rahib diperkebunan, dalam kerja ini aku sungguh mendapat banyak pemaknaan diri dimana aku sungguh diajak untuk berlatih kesabaran dengan mencabuti tumbuhan liar disekitar persemaian cengkeh, belajar sesuai dengan apa yang ada dalam kitab suci dimana perumpamaan tentang gandum dan ilalang, aku sungguh benar-benar masuk dalam peristiwa tersebut dimana aku secara pribadi diketuk oleh Tuhan untuk masuk dalam kondisi perumpaan tersebut selain itu aku pun diajaka untuk berlatih bersabar akah hal-hal yang hadir didepanku, disisi lain aku diajak untuk masuk dalam kondisi stop dan membaca situasi baru kembali menyelesikan masalah yang ada,

Belajar dari para rahib ini aku sungguh bersyukur atas rahmat panggilan yang boleh aku dapat ini sehingga pada akhirnya nanti aku dapat mengolah batinku dalam menapaki jalan panggilan suci ini, Terima kasih pertapaan Santa Maria Rawaseneng yang telah menjadi tempat untuk aku mendalami relung hati terdalam.

Tags: | 0 komentar

0 komentar:

Posting Komentar